Titipan.

Jantung ini rasanya ingin copot setelah saya mendengar tidak ditemukan janin di dalam kantung rahim saya. Waktu itu saya periksa USG 2D. Karena suami tidak percaya, dokterpun menyarankan kami untuk periksa USG 4D. Kamipun dirujuk ke dokter lain untuk pemeriksaan 4D. Cemas, resah, deg-dega, pasrah, perasaan kami campur aduk. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya nama saya dipanggil. Kami berempat, mama saya, adik saya, suami dan saya masuk ke ruangan. Disana, dengan rujukan dokter sebelumnya saya langsung naik ke tempat tidur pemeriksaan USG. Saya membuka celana saya. Oh iya, saya menggunakan USG 4D transvaginal. Jadi, ada sebuah alat yang dimasukkan melalui vagina kita. Jadi, bukan melalui perut ya. Disitu ditemukan janin! Namun,,,,, kami sunggu syok ketika dokter mengatakan bahwa janin saya tidak berdetak lagi!. Saat itu kepala saya mulai pusing. Ingin nangis rasanya tidak bisa karena saya sungguh syok. Dokter pun mempersilahkan saya memakai celana kembali. Dan beliau menulis di laporan rekam medis saya kalau janin saya mengalami kematian mudigah. Yaitu janin tidak berkembang dan meninggal di dalam kandungan. Usia kandungan saya sekitar 6 minggu. 

Setelah selesai periksa ke dokter dengan USG 4D, kami kembali ke dokter pertama yang masih menunggu kami. Dokter menyarangkan untuk saya segera D/C atau dikuret. Dikeluarkan janinnya. Dokter bilang karena ini adalah kehamilan pertama saya, oleh sebab itu beliau menyarankan saya untuk dipasang alat pembuka rahim dahulu baru proses D/C dilakukan agar rahim terbuka dan tidak terlalu merusak jaringan-jaringan di rahim saya. Sungguh saya merasa ingin mati mendengar itu semua. Saya kehilangan janin saya, dan saya harus mengeluarkan janin saya secepat itu. Saya mau nangis sekencang-kencangnya, namun tidak bisa karena jujur saja saya masih sangat syok. Begitu juga dengan suami, mama dan adik saya. Selesai dinyatakan keguguran dan saya harus segera melakukan prosedur D/C kamipun pulang. Suami saya mengantar saya pulang ke rumah papa dan mama. Sedangkan dia harus pulang ke kos kami untuk pagi nya dia kerja dan ngambil surat rujukan dari kantor. Ya, seperti kita tahu kan biaya operasi dan rawat inap tidaklah murah. 

Semalaman saya tidak bisa tidur. Hati saya hancur sehancur-hancurnya. Saya tidak terbayang bagaimana nantinya. Saya mulai mulas dan sedikit pendarahan. Kejadian ini terjadi hari senin , 4 Desember 2017 yang lalu. Selasa , rencananya saya akan pasang alat pembuka rahim. Lalu dirawat inap selama beberapa jam untuk besok pagi Rabu saya di operasi kuret. Bangun pagi hari selasa, hati saya masih hancur, nggak doyan makan, cuma bisa bengong. Suami masih sibuk ngurus surat-surat supaya biaya bisa ditanggung kantor. Selama itu pula saya mengalami pendarahan dan mulas-mulas. Memang rasanya percis seperti orang mau melahirkan. Sore, suami dan ibu mertua datang jemput buat ke rumah sakit. Awalnya suami masih ngotot supaya kami berobat ke dokter lain. Dia masih berharap kalo janin kami masih bisa dipertahankan. Namun, saya bilang ke suami kalo saya sudah tidak kuat, perut saya sakit sekali, dan saya mengalami pendarahan. Kami sempat bertengkar . Namun akhirnya dia pasrah dan sayapun ditangani suster. Saya masuk ke ruangan, menunggu dokter memasang alat pembuka rahim. Demi Tuhan, rasanya sangat teramat sakit ketika dokter memasukkan alat itu. Karena saya tidak dibius. Sakit sekali, ingin mati rasanya. Dan, saya harus menggunakan alat itu sampai besok pagi menunggu operasi kuret. Saya hanya bisa berdoa, ya Tuhan kuatkan saya Tuhan. Saya tidak sanggup. Setelah memasukkan alat, saya dibawa ke ruang rawat inap. Disana saya sempat makan. Namun, perasaan , hati, pikiran, dan fisik saya sungguh lemah. Suami sempat menunggui saya sampai tengah malam. Lalu dia dan mama mertua saya pulang ke rumahnya untuk besok pagi datang ketika proses kuret dilakukan.

Sepanjang malam saya ingin merutuki diri saya sendiri. Karena sakit yang tidak tertahankan. Sakitnya tidak hanya di perut saja, tapi sampai ke pinggang, punggung, leher. Pokoknya semua badan. Saya hanya bisa berdoa agar semua ini berlalu. Tuhan kuatkan saya!

Setelah perjuangan semalaman suntuk. Merasakan sakit yang sangat sakit, sekitar pukul 6.30 pagi suster membawa saya ke ruang operasi. Disana saya di menunggu selama 30 menit. Setelah itu saya masuk ruang operasi, dan dipasang alat-alat pernapasan, jantung, dll. Lalu, saya di observasi selama kurang lebih 30 menit. Jadi , saya masih harus merasa kesakitan selama kurang lebih 1 jam di ruang operasi. Ya, Tuhan. Ampunilah dosa-dosa saya. Saya sempat menangis dan merutuki diri sendiri dan bertanya apa salah dan dosa saya sehingga saya harus merasakan ini semua. Setalah semua berjalan dengan baik dan saya siap untuk di kuret. Suster mulai memasukkan anestesi. Dan saya mulai tak sadarkan diri. 

Suster memukul-mukul pipi saya dengan lembut dan membangunkan saya. Pertama kali saya melihat, saya sudah kembali ke ruangan awal saya ketika saya masuk ruang operasi. Saya masih memakai baju operasi. Sakit? tidak. hanya saya merasa kosong saat itu, saya merasa sedih, terluka, hancur. Entah apa lagi kata-kata yang harus saya bilang. Setelah operasi saya harus di observe dulu. Saya menunggu berbaring dengan lemah sekitar 30 menit. Setelah itu, saya dibawa kembali ke ruang rawat inap. Saya melihat suami, mama saya, mama mertua, dan adik saya. Saya hanya bisa terdiam. 

Masuk ke ruang rawat inap, saya sempat istirahat sebentar . Lalu beberapa jam kemudian saya memutuskan untuk pulang saja. karena saya merasa sudah bisa pulang. Oh iya, pipis pertama itu rasanya sakit sekali. Perih . kayak dikasih cuka diluka. Ingin nangis rasanya. Tapi, saya mau sehat. Saya minta pulang hari itu juga. Setelah itu dokter pun memberikan resep obat untuk pemulihan. Saya diantar suami untuk pulang ke rumah papa mama saya dulu. Suami waktu itu balik dulu ke rumah mertua saya. 

Saya sempat istirahat total selama 1minggu di rumah. Ternyata suami juga drop. Hari kamis nya sehari setelah operasi kuret, suami demam tinggi. Dan dalam posisi dia tidak sama saya. Saya panik, bingung. Saya mau rawat dia, tapi saya juga masih sakit dan proses penyembuhan. Akhirnya hari jumat dia dirawat karena panas nya nggak turun-turun. Gejala awal tipes. Saya sempat ke rumah sakit jenguk suami. Cuma ya namanya suami khawatir, dia sempat marah sama saya. Tapi, nama nya istri mana bisa melihat suaminya sakit. Saya pun hanya bisa menemani dia sampai tengah malam. Tidak bisa rawat dia. Mama mertua yang rawat. Karena suami nggak mau saya sakit lagi dan pendarahan.

Sebelumnya, saya mau cerita kalau saya baru nikah Oktober 2017 lalu. Kami sungguh senang dengan berita kehamilan ini. Baru nikah sudah dikasih. Tuhan sudah menitipkan janin dalam rahim saya. Saya sungguh senang. Tapi namanya juga titipan. Kapan saja Tuhan bisa ambil. Meskipun saya masih berduka, saya harus kuat. Saya percaya Tuhan akan menitipkan lagi malaikat kecil di hidup kami. Saya yakin itu. 

Untuk suamiku, semoga kamu cepat sembuh ya. Saya mencintaimu, saya merindukanmu.
Untuk anakku, maafkan ibu kalau ibu tidak maksimal menjagamu,. Sekarang kamu sudah kembali kepada Tuhan. Terimakasih sudah menemani ibu beberapa minggu ini.  Ibu mencintaimu, nak. 

KS

Comments

Popular posts from this blog

Vendors Pernikahanku.