Eternal Faith
Sebuah cerita dari wanita yang pernah disakiti.
Teruntuk Suamiku, John kupersembahkan karya ini untukmu.
Bab I
Awal kisah ku
Pagi itu...
Sachi terbangun dari tidurnya. Hari ini adalah hari pertama Sachi masuk ke perguruan tinggi. Sachi masuk di Fakultas Seni di salah satu perguruan tinggi bergengsi di Jakarta.
Ibu : "Sachi.... ayo bangun, sudah pagi, nanti kamu telat", Ibu masuk ke kamar Sachi sembari membuka jendela yang membuat Sachi terbangun karena silauan sinar matahari yang masuk ke kamarnya.
Sachi : "Iya, Bu. Duh Sachi ngantuk banget nih", kata Sachi sembari mengucek- ucek matanya dan sesekali menguap.
Ibu : "Ayo sayang , nanti kamu telat. Ini kan hari pertama masuk kuliah, kata Ibu sembari duduk di pinggir tempat tidur Sachi.
Sachi pun bangkit dari tempat tidurnya dan masuk ke kamar mandi yang masih satu ruangan dengan kamar tidurnya.
30 Menit kemudian...
Setelah sarapan, Sachi bergegas berangkat menggunakan motor scoopy pink nya tak lupa dengan helm yang juga berwarna pink.
Sachi : "Bu... Sachi berangkat, ya", seraya mencium tangan Ibu.
Ibu : "Hati- hati ya, Sachi", jawab Ibu sembari melambaikan tangan sembari terus melihat kepergian Sachi.
Tiba di kampus.
Sachi segera masuk ke bagian papan pengumuman dimana tercantum nama- nama mahasiswa baru untuk ajaran baru. Dan tepat di bagian Fakultas Seni, Sachi menemukan ruang kelasnya. Sachi Amerita, begitu namanya terpampang di papan pengumuman.
Segera Sachi berjalan mencari ruangan yang dimaksud. Oh iya, di Fakultas Seni tahun ini mahasiswa baru hanya berjumlah 15 orang. Jadi, Sachi adalah salah satu dari 15 orang terbaik yang diterima tahun ini.
Lorong ruang Fakultas Seni
Sachi : "Hi, boleh tanya ruang kesenian 15 itu dimana?", tanya Sachi pada sesosok laki- laki berambut gondrong, celana jeans robek- robek, kaos belel ditambah kemeja kotak- kotak.
Gyan : Menoleh ke arah Sachi sembari memasang wajah dingin dan pergi begitu saja meninggalkan Sachi yang terlihat geram dengan sikap Gyan yang tidak bersahabat.
Sachi : "Heeeeeeh, kamu yang disana, saya tanya baik- baik kenapa dicuekin, Could you speak, couldn't you?, tanya Sachi dengan nada tinggi dan sedikit melotot ke arah Gyan yang tidak peduli dengan Sachi sama sekali.
Gyan pun tetap pergi berjalan menjauhi Sachi tanpa menoleh sedikitpun ke belakang, sedangkan Sachi hanya bisa melongo dan memasang wajah tidak percaya dengan apa saja yang baru dia lihat di depannya. Bagaimana bisa ada cowok yang begitu dingin dan tidak punya hati seperti itu ada di kampus sebaik ini.
Sachi pun pergi, kebingunan mencari ruangan yang sedari tadi coba dia temukan namun sepertinya tidak seorangpun lewat di depannya. Padahal hari itu adalah hari pertama semester baru. Dalam hati Sachi hanya mendumel, kenapa dia haru bertemu dengan cowok jahat dan tidak ada satu orangpun di kampus pada hari itu terlihat. Apakah orang- orang sedang berkumpul di suatu tempat yang dia tidak tahu.
Ruang serbaguna.
Rektor : "Ya, demikianlah anak- anak ku semuanya semua pesan yang Bapak ucapkan tadi untuk dapat kalian pahami dan patuhi. Sekali lagi, Bapak ucapkan selamat datang di kampung kita tercinta ini", Bapak Rektor pun mengakhiri pidato sambutan selamat datang bagi mahasiswa baru.
Mahasiswa baru pun keluar ruangan satu persatu dengan tertib.
Sachi berjalan menelusuri lorong- lorong dan tiba di ruang serbaguna dimana para mahasiswa baru maupun senior- senior baru saja keluar dari ruang serbaguna. Sachi terheran- heran sedang apa mereka kenapa ramai- ramai seperti ini.
Sachi : " Hi, pada mau kemana?", tanya Sachi pada seorang gadis mungil yang terlihat masih cupu banget.
Faya : " Haaaalo", kata Faya sembari terbata- bata dan membetulkan kacamata super tebal nya itu. "Ini kita baru aja keluar dari ruangan serbaguna, habis dengerin pak Rektor pidato penyambutan mahasiswa baru"
Sachi : "Hah.. kok aku nggak tahu sama sekali ya", kata Sachi sambil terbelangak
Faya : "Ta.aa.aapi kita udah kelar kok, sekarang udah bisa masuk ke kelas masing- masing", jawab Faya sembari jalan disamping Sachi yang masih bingung kenapa dia bisa ketinggalan info kaya gini.
Sachi : "Oh iya nama aku Sachi Amerita, panggil Sachi", kata Sachi sembari menyodorkan tangan ke arah Faya dan tersenyum lebar.
Faya : Menyodorkan tangannya dan memperkenalkan dirinya, "Nama ku Fa.aaya Sonia", masih dengan terbata- bata.
Sachi : "Hi Faya, aku masuk jurusan seni, kamu ambil apa?", tanya Sachi antusias sembari berjalan di sebelah Faya
Faya : "Aku ambil jurusan matematika", kata Faya yang sudah bisa mengendalikan dirinya dan tidak terbata- bata lagi.
Sachi : "Wow... keren banget, Fay", kata Sachi sambil menganga. "Kalau aku disuruh masuk jurusan matematika, aku yakin 1 menit pun aku nggak akan kuat", kata Sachi sambil tertawa terbahak- bahak diikuti dengan Faya yang sekarang juga bisa tertawa lepas.
Faya : " Ah, kamu bisa aja, nggak gitu banget kok, Sachi", kata Faya sembari tersenyum hangat.
Itulah awal persahabatan Sachi dan Faya. Dua orang gadis yang berbeda sekali. Sachi, sangat antusias, berani, sedangkan Faya sangat pandai, pendiam, dan pemalu. Namun demikian, mereka bersahabat baik, meskipun berbeda sifat dan karakter.
Siang itu di kantin kampus.
Praaaaang............. Suara piring dan gelas tumpah.
Sachi ditabrak segerombolan anak yang terkenal gaul di kampus.
Sachi : "Heh, lo nggak punya mata ya?", teriak Sachi sembari melotot ke arah gerombolan anak- anak gaul yang terlihat kaya raya dan parlente di depannya.
Biyan : Melihat ke arah Sachi dengan mata sedikit berbinar, "Eh, sorry. Gue bener- bener nggak sengaja, tadi gue lagi bercandaan sama genk gue. Nggak taunya nabrak lo. Gue Biyan, nama lo siapa?" tanya Biyan sambil tersenyum manis dan masih dengan mata berbinar- binar.
Sachi : "Gue nggak perlu tahu nama lo, dan lo juga nggak perlu tahu nama gue", jawab Sachi sambil pergi dengan Faya yang masih kaku terdiam di samping karena takut banget kalau sampai Sachi ngamuk- ngamuk di depan umum. " Fay, yuk kita pergi dari sini", ajak Sachi sembari menarik tangan Faya.
Biyan : " Hey, tunggu dulu, gue bener- bener minta maaf atas perlakuan gue sama temen- temen gue tadi, gue nggak sengaja", teriak Biyan sembari berlari kecil mengejar Sachi dan Faya.
Sachi nggak peduli, tetap jalan aja tanpa melihat ke belakang lagi meskipun Biyan berusaha mengejar.
Di toilet perempuan.
Sachi : " Gila ya tuh cowok ngeselin banget, ngapain coba dia sam genk nya harus sok- sokan gitu. Dikira ini kampus nenek moyangnya", gerutu Sachi di toilet sembari membersihkan kemeja pink nya yang terkena tumpahan mie ayam tadi.
Faya : "Sach, kamu tau nggak itu tadi emang salah satu anak dari pendiri kampus ini", kata Faya sembari membetulkan kacamata nya. "Namanya Biyan Sastrakasmita, dia anak dari Priyo Sastrakasmita orang yang sangat berpengaruh di kampus ini, kamu harus hati- hati Sachi, aku takutnya dia dendam sama kamu, terus kamu dijahatin sama dia", tambah Faya sambil menatap Sachi dengan penuh kekhawatiran.
Sachi : "Oh, jadi gitu, makanya tadi dia sama genk nya itu sok- sokan. Tenang aja, Fay aku nggak takut kok. Lagian aku nggak salah sama sekali tadi", jawab Sachi sembari memegang bahu Faya. "Yuk, aku masih ada kelas ni sama Prof. Abimanyu", kata Sachi sembari keluar dari toilet diikuti Faya.
Masih ingat cowok kaku yang awal semester ketemu dengan Sachi dan Sachi dicuekin gitu aja pas dia nanya ruangan. Ya, namanya Gyan Rakamahesa atau biasa dipanggil Gyan. Anak Fakultas seni, dua tingkat diatas Sachi. Hobinya adalah melukis. Gyan memang dikenal sebagai sosok pria yang sangat dingin dan kaku, meskipun begitu banyak juga cewek- cewek yang kepengen dekat sama si sosok Gyan yang cool ini. Gyan, cowok berambut gondrong, kulitnya putih bersih, tinggi dengan tubuh krempeng. Style nya seperti kebanyakan anak seni lainnya. Bisa dibilang ketampanan Gyan cukup dikenal di seantero kampus.
Sachi : "Ouch... mata lo dima..na sih?", teriak Sachi ditabrak sesosok cowok tinggi krempeng rambut gondrong di depannya. Namun seketika itu Sachi sadar bahwa sosok cowok di depannya itu tidak asing lagi.
Gyan : "Sorry, gue buru- buru", jawab singkat si cowok misterius tersebut sembari pergi meninggalkan Sachi begitu saja.
Sachi : "Heeeh, lo tuh kenapa sih kok freak banget. Udah nabrak pergi gitu aja, kaya yang waktu itu gue tanya lo cuma bisa diem", kata Sachi sewot karena lagi- lagi ditinggal sosok cowok di depannya itu.
Gyan : Berhenti dan menoleh ke belakang, "Kan tadi gue udah minta maaf", kata cowok misterius itu sembari menaikkan satu alisnya dan masih bersikap dingin.
Sachi : "Kok lo gitu sih, ninggalin gitu aja, dingin banget", kata Sachi sedikit meringis dan memegangi lengannya dan memasang wajah memelas tanda minta dikasihani.
Gyan : "PfTT, Sini gue lihat emang kenapa sih tangan lo?", tanya Gyan sembari memegang lengan Sachi dan mata mereka pun beradu. Gyan hanya bisa terdiam sepersekian detik sampai akhirnya sadar kalau dia lagi memegangi lengan Sachi. Dan sontak Gyan pun melepas pegangannya tersebut.
Wajah Sachi pun terlihat merah. Dan malu- malu Sachi berusaha menutupi kegugupannya dengan membetulkan rambut coklatnya yang bergelombang indah tersebut sembari mencairkan suasana.
Sachi : "Gue nggak apa- apa. Hm. gue duluan karena ada kelas", jawab Sachi terbata- bata sembari berjalan perlahan- lahan meninggalkan Gyan yang masih terkaku di posisinya.
Sembari melihat ke arah Sachi yang sedikit demi sedikit mulai menghilang, yang tinggal hanya rambut coklat bergelombang yang indah dengan punggung langsing Sachi, akhirnya Gyan pun tersadar dan pergi juga ke kelasnya.
Di taman kampus.
Faya : "Hey... ", teriak Faya menepuk punggung Sachi dan membangunkan lamunan Sachi yang sedang bengong.
Sachi : "Hah.... gila kamu Fay, ngagetin aku aja deh. Ada apa sih", Sachi kaget karena kepergok lagi bengong.
Faya : "Habis kamu tadi bengong gitu, makanya aku kagetin. he he he", kata Faya memasang wajah mengejek.
Sachi : "Aku nggak bengong, nih lagi belajar teori- teori dasar lukisan setiap zaman", sembari nunjukin buku tebal sejarah lukisan sepanjang zaman. "Eh kamu tahu nggak anak seni lukis, tinggi, gondrong, kurus gitu", tanya Sachi dengan wajah penasaran.
Faya : "Hm.. Kak Gyan?, jawab Faya.
Sachi : "Huh, siapa? Gyan? namanya Gyan, Fay?", tanya Sachi berapi- api.
Faya : "Eh tunggu- tunggu, kok kamu semangat banget gitu. Ada apa nih emangnya?" goda Faya sembari menyentil pipi Sachi yang tiba- tiba memerah ketika digoda Faya seperti itu.
Sachi : "Enggak apa- apa kok, aku cuma nanya", kata Sachi sambil berusaha menutupi kegugupannya karena takut ketahuan terlalu semangat.
Faya : "Iya, Sach namanya Gyan Rakamahesa biasa dipanggil Gyan", kata Faya menjelaskan. "Dia jurusan seni lukis fakultas seni, masa kamu nggak tahu sih , Sach?" tanya Faya penasaran.
Sachi : "Nggak lah, mana aku tahu. Lagian orang kaku kaya dia tuh pasti nggak terkenal karena keliatan banget sombong", kata Sachi berapi- api.
Faya : "hahahaha, Iya sih, emang dia cowok kaku, tapi ganteng kan, Sach?" ledek Faya.
Sachi : "Ih, nggak banget deh, ganteng juga kalau kaku cewek- cewek kabur", kata Sachi sambil menaikkan satu alisnya.
Faya : "Cewek galak juga bikin cowok- cowok kabur, Sach", ketawa Fata membahana. Diikuti dengan cubitan Sachi yang bertubi- tubi.
HA HA HA HA
Mereka tertawa- tawa hingga orang- orang disekeliling mereka melihat ke arah mereka.
To be Continued...
KS
Comments
Post a Comment